FINANCIAL INDEPENDENT: Pendidikan keuangan untuk masa depan



Berdasarkan sebuah survey dan data dari Otoritas Jaksa Keuangan (OJK), sebanyak 85% anak muda tidak memiliki tabungan, sebanyak 61,7% tidak memiliki dana darurat, pada 2022 nilai transaksi judi online di Indonesia mencapai Rp 104,41 triliun dari 104.791.427 transaksi dan sejak tahun 2018-2022 kerugian masyarakat akibat investasi bodong (illegal)  tembus Rp 126 triliun.

sungguh miris melihat data yang tertera, tetapi mengapa bisa ada kejadian seperti itu dan mengapa banyak juga yang menjadi korban bukan cuma orang tua tetapi juga anak muda padahal tidak sedikit mereka yang sudah memiliki akses ke berbagai informasi melalui internet.

menurut sebuah studi Gen Z banyak mengeluarkan uang sebanyak 35% hanya utnuk liburan. Lebih lanjut 23% untuk nongkrong, 20% untuk makan, 13% untuk fashion dan kecantikan, dan 7% untuk investasi.

dapat dilihat bahwa anak zaman sekarang banyak mengeluarkan  uang hanya untuk gengsi, bahkan sedikit sekali mereka yang memiliki dana darurat atau dana untuk masa yang akan datang (Dana pensiun).

banyak anak muda juga bahkan generasi sebelumnya tidak memiliki wawasan tentang ini, padahal dengan kemudahan penyebaran informasi seharunya banyak orang yang sudah mengerti tentang bagaimana cara-nya mengelola uang.

 

FAKTOR PENYEBAB

berkembangnya era teknologi bukan hanya membawa dampak positif seperti mudahnya melakukan komunikasi, meluasnya berbagai informasi tetapi juga membawa dampak negatif. contohnya budaya FOMO (Fear of Missing Out) yang di sebabkan oleh media social dan kurang literasi digital dalam memfilterisasi informasi.




PENTINGNYA MELEK KEUANGAN

mengapa penting melek akan keuangan? karena di negara indonesia ini tidak sedikit kelas menegah yang tidak mengerti akan uang padahal kita punya bonus demografi 2045 dan akibatnya dapat dilihat diatas, bahkan banyak juga yang telah lulus sekolah yang langsung bekerja dan ketika mendapat gaji langsung habis pada pertengahan bulan tanpa tahu uang yang didapat menghilang kemana. karena uang tidak di ajarkan di sekolah juga saat di rumah tidak ada satupun yang ngengajarkan (tidak mengerti). bahkan pembicaran tentang uang di nergara ini juga di anggap hal tabu contohnya saja ketika menanyankan gaji yang di dapat oleh seseorang.

saat pra-lulus sekolah banyak siswa juga bingung dengan keputusan mereka untuk dapat berkerja ke luar domsili karena mereka takut tidak bisa mengatur uang dengan baik, padahal mereka juga punya ambisi finasial yang tinggi, mereka takut merepotkan karena resiko yang di tanggung orang tua untuk mereka karena mereka masih belum berpenghasilan.

di sekolah juga kita diajarkan dan dipersiapkan hanya untuk menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan yang di gaji bulanan dengan skala persaingan yang sangat tinggi tapi tidak di ajarkan fondasi untuk bisa mengatur uang dengan baik, secara sadar maupun tidak uang sudah menjadi pilar penting dalam hidup contohnya jika tidak punya uang kita tidak bisa makan, tidak bisa membayar angsuran, tidak bisa bayar tagihan dan lain-lain.

dalam berhubungan contohnya pernikahan banyak masalah perceraian di karenakan keuangan dan dalam hubungan social banyak juga kejahatan yang disebabkan karena kekurangan uang.

disinilah peran melek keuangan sangat di butuhkan bukan Cuma hanya mengatur keuangan tapi juga mampu melihat celah-celah untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.

melek keuangan adalah sebuah pola pikir dimana seseorang memiliki pandangan yang baik mengenai bagaimana cara uang itu bekerja bukan hanya sebagai alat tukar tetapi juga bagaimana uang itu memiliki peran besar dalam setiap keputusan, perilaku, dan perasaaan.

 

MENGAJARKAN UANG SEJAK DINI

waktu yang pas untuk memanamkan ajaran tentang uang  adalah ketika anak masih di usia pra-sekolah dimana otak masih tahap leluasa untuk berkembang. meski begitu bukan berarti ketika dalam umur remaja atau dewasa tidak bisa di ajari karena kita mengetahui ada yang Namanya metode bejalar

banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan pola pikir tentang uang dan yang paling besar perannya adalah orang tua setelah itu lingkungan. ada anak yang “kaya” tapi tidak bisa mencari uang sendiri dan malah terus menghamburkan uang orang tuanya ada pula anak yang “miskin” malah lebih menghargai tiap uang ynag dia dapat dan bisa memanfaatkannya dengan baik.

apa saja yan harus diajarkan ada banyak hal yang harus di pikirkan, pertama yang paling dasar adalah mencatat setiap pengeluaran supaya mengetahui kemana saja uang itu keluar untuk apa saja.

setaip ornag mempunya methode tersendiri dalam berhubungan dengan uang, contohnya beberapa methode yan bisa di praktika yaitu rumus 50/30/20, dimana kita akan mengaloksikan 50% uang untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan dan 20% untuk di tabung.

juga ada rumus SMART yaitu (S)pesific, (M)easurable, (A)chievable, (R)elevant dan (T)ime-bound. dimana dalam mengatur keuangan kita harus menetapkan tujuan kita dengan spesifik, terukur, bagaimana tindakan kita untuk sampai kesana, seberapa penting tujuan itu untuk kita raih saat ini, dan berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ligwina Hartanto, 2010. untuk INDONESIA yang KUAT, 100 LANGKAH UNTUK TIDAK MISKIN. Jakarta: penerbit Literati.

Robert T. Kiyosaki, 2016. Rich Dad Poor Dad, Apa yang diajarkan orang kaya kepada anak-anak mereka tentang uang- yang tidak diajarkan orang miskin dan kelas menengah. Jakarta: penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Otoritas Jaksa Keuangan (OJK), 2023.



penulis

Riski nurdiyan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman (Cerita pendek)

Minuman Kaleng (Cerpen mini)

ketika dongen anak-anak berubah menjadi DARK (Review buku Little Red Riding Hood)