Minuman Kaleng (Cerpen mini)
Versi Pdf-nya bisa didownload di sini :
https://lynk.id/kaeristin/VDJn1wi
Saat ini pukul 10 malam, seorang pekerja sedang
berjalan pulang selepas dari kerja lembur diperusahaannya.
ransel berisikan laptop, berkas-berkas yang belum
selesai, revisi, dan penolakan, tumbler jumbo, membebani Pundak beserta tangannya.
dengan lanyard masih mengikat di lehernya tertera foto pemuda tersenyum, nama,
divisi bagian mana ia tempati, dan nama perusahaan beserta logo yang mencolok
di sampingnya menandakan kebanggan untuk berkerja disana (kepada semua orang).
dia bekerja di sebuah perusahaan penyedia minuman
kaleng yang bisa dibilang cukup besar saja. sudah hampir 15 tahun ia mengabdi
bekerja di tempat itu dan saat ini ia menempati bagian marketing terkadang;
SALES door to door.
dalam perjalanan pulangnya itu sesekali ia mendecikan
lidah dan menghela nafas. bukan kali ini aja ia melakukan itu, bukan saja saat
ini, bukan sesekali saja tapi
HAMPIR SETIAP HARI.
‘untuk apa aku melakukan semua ini?’
terlihat cahaya biru dikegelapan malam tak jauh saat
ia berjalan
dia melihat mesin minuman (vending mechine) kata orang
kota ada disana. saat ia berdiri tepat didepan mesin itu, telihat berjajar
berbagai minuman dari air putih, teh, kopi minuman berpersia mulai dari anggur,
jeruk, apel, leci, minuman berkarbonasi dalam berbagai merek dan ada merek
minuman yang dijualnya.
ada beberapa lampu tombol yang mati semandakan minuman
itu habis, dan yang tersisa lainnya menyala.
saat melihat semua minuman itu dalam pikirannnya
terlintas
‘sudah lama aku tidak mencoba minuman-minuman ini,
setiap hari aku selalu hanya minum air putih terus-terusan, lagi dan lagi,
hanya kali ini saja aku ingin minum-minuman lain’
ia kemudian mencoba merogok dompet yang ada disakunya,
meraih selembar kertas dan beberapa koin agar uangnya pas kemudian memasukannya
ke mesin itu.
tombol lampu mesin itu mati dan nyala kembali berubah
menjadi tombol hijau mulai berkedip
‘mungkin dengan minum ini…’
ia memencet salah satu dari banyak tombol hijau yang
terus berkedip
‘besok aku bisa tidak masuk kerj-‘
DBRUKK
dentuman keras dari bawah membuyarkan isi kepalanya,
itu minuman kaleng yang ia pilih.
ia kemudian mengambil minuman dengan sedikit menunduk dengan
sedikit rasa rakit pada punggungnya.
mencoba membuka minuman kaleng itu agar ia bisa minum
secepatnya
klek, klek, tklek, klek, ktk…
terlintas lagi di kepalanya.
‘mengapa ia harus melakukan semua ini,
dengan segala tetek bengeknya hidup seperti ini.
berhimpitan dengan orang saat jadwal kereta penuh
setiap pagi,
bertemu dengan klien yang terus terang ia tidak suka,
dengan upah yang tak seberapa,
lembur tanpa dibayar dan hanya berisikan janji angka
bertambah bulan depan tapi tak ada perubahan bahkan dirumahpun ia masih harus
bekerja, bahkan waktu libur ia masih harus datang ke kantor untuk bekerja dan
saat ingin mengambil cuti pun di tolak katanya
untuk kebaikan Bersama tapi si “pemerintah” itu malah bersenang-senang
di kala liburnya
atasan yang tidak mengapresiasi hasil kerjanya -hanya
bisa menyuruh-, rekan kerja yang bermuka dua menyanjung didepan mata tapi
mencaci-maki saat orang itu tidak ada, senior yang berpikir ia adalah pemegang
peran utama/inti dari segalanya ditempat ini meskipun ia tidak ada juga tempat
ini masih berjalan apa adanya dan mengambil kerja keras para juniornya saat ada
atasan saja -ia menjilat seperti anjing pada majikan- .
bahkan ia tau ada yang seperti membenci dirinya tanpa
berkata hanya saat dia ada disana -matanya memancarkan itu-.’
‘dengan semua
itu Lalu apa yang aku dapatkan? hah!!’
dia terus menerus mencoba membuka pengait minuman soda
kaleng yang keras itu
“bangs*t!!”
*tsstt…
pekerja itu meminum cola itu sampai habis, bersendawa
dan berjalan menuju ke rumahnya.
untuk beristirahat & besok kembali bekerja seperti
biasanya.
kaleng yang ia buang ditempat sampah itu ternyata kaleng soda bermerek tempat perusahaanya bekerja.
TAMAT.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar