Teman (Cerita pendek)
Versi Pdf-nya bisa didownload di sini :
https://lynk.id/kaeristin/VDJn1wO
"Udah berapa lama ya kita temenan wi?" Si gadis bertanya kepada seseorang yang duduk disampingnya, di batasi oleh meja budar serta secangkir teh hangat diatasnya.
"Gak tau, kayak-nya udah lama" jawab dewi. Suasana di luar tengah gerimis, menciptakan kabut tipis yang melayang-layang diatas aspal yang tadinya kepanasan.
"Kamu masih inget ngga yang waktu itu?" Si gadis bertanya lagi kepada dewi. "Yang mana?" Timbal nya. "Itu yang aku jatuh dari sepeda yang kamu dorong keras" ucapnya. "Oh, yang kamu nyungsruk ke selokan". Kedua gadis itu tertawa bersamaan, "iya inget yang waktu kamu masih belajar sepeda", "itu sampe di ketawain anak cowok yang lewat, sampe malu aku" "itu lukanya masih ada" dewi menunjuk ke sayatan kecil di dahi.
Satu detik berlalu.
Mereka diam dalam nyaman. "Udah banyak yang terjadi, ya Wi" si gadis menghela kecil. "Iya, banyak hal yang terjadi saat kita bersama" dewi menatap ke pekarangan yang basah oleh hujan. "Banyak yang menentang hubungan kita" ucap dewi. "Bahkan orang tuaku" lanjut si gadis. "Tapi kita masih temanan sampai sekarang" timpal dewi.
"Mereka bilang kamu bahaya, jangan di deketin mening di jauhi aja, ngga usah di dengerin lah ngga usah di ikutin lah apa lah padahal mah kamu tu baik Wi, mereka aja yang ngga ngerti" ucap si gadis mengerutkan dahi tanda sedang kesal.
"Bahkan karena aku kamu pernah di bully pas smp." Ucap dewi sambil terus menatap penkarangan dan ada perasaan mengganjal di hati nya.
"Iya, sama cewek-cewek di kelas. di maki lah, di jauhin, di anggap aneh lah padahal aku cuman ngobrol bareng kamu, bahkan guru-guru di sana aja ngga ngelakuin apa-apa pas denger aku di bully malah mereka kaya ngejahuin aku" ucap si gadis seperti terus memaki apa yang pernah dia alami.
"Tapi itu semua bukan salah kamu wi" ucap si gadis yakin.
"Maaf ya" balas dewi dengan nada rendah dan sekarang tidak lagi melihat kedepan, ia tertunduk. "Hah? Kenapa? Kamu bilang apa?" Tanya si gadis yang sepertinya tidak mendengar apa yang baru saja dewi ucapkan "Ngga. nggak papa".
"Tapi semuanya berubah saat kamu mulai sekolah SMA-kan?" Tanya dewi.
"Hmm, iya juga sih semenjak aku di bawa ke tempat.... nggak tau aku apa namanya tapi aku benci tempatnya, banyak orang yang berbaring, dinding yang kebanyakan putih, bau obat di mana mana dan aku juga di paksa minum obat yang pait banget" si gadis merasa mual hanya mengingat kejadian dan tempat itu.
"Tapi habis itu banyak hal yang berubah kan?" Ucap dewi lagi kepada si gadis yang sedang menyeruput teh di depannya. "Iya, aneh nya banyak yang terjadi wi, orang tua ku kaya lebih baik ke aku di sekolah juga aku ngerasa bisa lebih terbuka bahkan aku juga dapet satu-satunya sahabat selain kamu wi" ucap si gadis yang terasa riang seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan hadiah mainan favoritnya. "Kami makan bekel bareng, kemana-mana berdua, curhat, main ke taman, pernah nginep juga kadang juga suka berantem pas 1-2 hari lewat baikan lagi" lanjut si gadis yang masih saja senang.
"Kalo gak salah namanya intan ya?" Tanya dewi "Iya, kita kenalan pas di perpustakaan ngga sengaja nabrak pas aku mau ngembaliin novel 'i saw the dream again' dan aku ngga nyangka dia juga penggemar penulis-nya" ucap si gadis yang lebih riang dari sebelumnya kemudian dia melanjutkan "juga yang paling aku ngga nyangka dia juga suka lagu favorit kita Wi, yang lirik nya tu....
'Senyumanmu yang indah bagaikan candu Ingin trus ku lihat walau dari jauh....
Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku Yang berkhayalah kan bisa bersamamu...' "
Mereka berdua menyanyikan lagu halu-feby putri. Suara merdu mereka merambah ke segala penjuru, bahkan suara rintik hujan ini seperti musik pendukung yang bisa menciptakan gambaran di lagu yang mereka nyanyikan.
Setelah selesai bernnyanyi mereka berdua tertawa. "Suara kamu fals banget wi kaya kaleng kerupuk"sindir si gadis " lah kamu kaya klakson telolet yang ngeresahin warga" balas dewi. Mereka berdua kembali tertawa dengan keras selesai mentertawakan masing-masing mereka kembali lagi diam dalam nyaman.
"Kamu udah tau cita-cita kamu apa?" Tanya dewi kali ini nada bicaranya berbeda.
"Apaan sih tiba tiba ngebahas seuatu yang serius? Kaya mau debat politik aja" Si gadis tertawa kemudian ia diam melihat Dewi hanya menatap si gadis dengan serius "yah aku ngga pernah kepikiran cita-cita si, kamu tau kan aku selalu ngikutin kamu dan juga tiap orang pasti cita-cita nya berganti-ganti ketika mereka bertambah usia dan memahami dunia yang mereka singgahi dan melupakan mimpinya yang dahulu.
"Tapi kayaknya aku pengen jadi penulis novel deh, walaupun uang-nya ngga seberapa, aku pengen ngehibur orang yang udah lelah sama kehidupannya atau aku pengen keberadaanku ini bisa bermanfaat bagi orang lain" ucap si gadis dengan wajah sedikit memerah kemudian menutup wajahnya.
Mendengar apa yang di ucapkan si gadis, dewi merasa ada yang aneh dimatanya tanpa ada pernyataan air mata jatuh membasahi rok hijau yang di kenakannya.
'Syukurlah' ucap dewi dalam hati dengan rasa lega.
"Kok kamu malah nangis? " Si gadis panik melihat sahabatnya yang tiba tiba saja menangis dan mencoba menghiburnya dengan memamerkan wajah konyol "nih lihat baso mang mamat!!" Tunjuknya si gadis yang mengembangkan pipi sambil menarik tangan dewi dan menaruh di pipinya.
"Apaan sih?!" Dewi tertawa keras walaupun air matanya masih saja mengalir.
Setelah beberapa lama keadaan kembali lagi seperti semula.
"Kita udah banyak cerita tapi kok kamu ngga pernah nyebut nama aku sih?" Si gadis menatap dewi dengan perasaan heran. Dewi hanya tersenyum lembut sebagai balasan. Si gadis kebingungan dan berkata "lah kok malah senyum?" Senyap mulai merambat dewi melihat ke arah pekarangan depan yang diguyur hujan dengan lebat "bukannya aneh memanggil nama sendiri ke diri sendiri?" Ucapnya.
"Maksud kamu?" Ucap si gadis heran
"Apa aku emang bener-bener nyata?" Timpal dewi. "Siapa aku sebenarnya dimata kamu?" "Atau lebih tepatnya siapa diantara kita yang bernama 'Dewi nur Apriliani'. Aku atau kamu?" Lanjutnya.
Si gadis mulai memperhatikan apa yang terjadi terjadi seiring ia memcerna perkataan demi perkataan dan melihat sekeliling-nya, cangkir teh yang seharusnya untuk 2 orang lenyap dan hanya terisa secangkir, luka didahi yang seharusnya hanya ada di dahinya, ada di dahi gadis sebelahnya, tahi lalat kecil di bawah mata kiri, dan kecantikan yang terwarisi dari ibunya juga ada padanya.
Si gadis syok, nafasnya tidak beraturan mencoba menerima apa yang sebenarnya terjadi hingga detik ke detik berlalu sampai..
Si gadis mulai menerima semua yang terjadi memahami momen ke momen yang baru saja ia lewati.
"Aku sekarang mengerti, aku adalah dewi nur apriliani dan kamu adalah temanku." sambil menunjuk ke gadis di sampingnya
"Kamu adalah bayanganku, selalu menemaniku, selalu ada untukku, bahkan saat dunia tidak sedang menyukaiku, kamu selalu ada di dalam diriku. Kamu adalah aku" lanjutnya
Gadis disamping nya tersenyum dan mulai meneteskan air mata, mengangguk bahwa ia puas dengan apa yang terjadi.
Dewi yang sudah mengetahui identitas dirinya mengulurkan tangan dan mengelus kepala bayangannya yang mulai menangis lagi. "Kamu memang manja ya" ucap dewi
"Aku ngga pengen ngedengernya dari kamu" ucap si gadis yang di usap oleh dewi.
Menit pun berlalu, tangis sudah berhenti bayangan dewi mulai berdiri "sudah saat nya aku pergi". Dewi membalas "kamu mau kemana?". Banyangan dewi membuka payung di gengamanya "kamu ngga perlu aku lagi disisimu, kamu udah bisa hidup tanpaku, kamu udah mandiri, bisa mencari teman, bertengkar dengan dia, makan bekal bareng sama dia, tidur bareng dia bahkan kamu udah bisa menetapkan arah tujuan hidupmu" ucapnya mulai beranjak pergi dari teras, melewati hujan dan sosok-nya menghilang secara perlahan.
" Tungguuu! Jangan pergi!! "
Seluruh pandangan berubah menjadi putih.
Matanya terbuka, yang dia lihat pertama kali hanya ruangan putih dan suntik infus yang ada di lengan kiri nya. 'Ini dimana?'.
Seseorang berjas putih datang mendekati tempat dewi berbaring, mengecek keadaan dewi 'oh iya ini rumah sakit, aku sepertinya pingsan'. Dokter selesai mengecek kondisi dan permisi menuju keluar. 'Dengar suara sepertinya ada orang tuaku diluar sana. Oh ada suara intan juga -? Apa yang mereka bicarakan ?'
Pintu terbuka, dokter tadi datang bersama orang tuaku dan intan. "Selamat nona dewi, kamu telah dinyatakan sembuh dari skizofernia" ucap dokter. "Skizofernia?" Ucapku sedikit tertahan "iya, itu adalah penyakit yang mempengaruhi otak dimana hal ini menyebabkan kamu sulit membedakan mana halusinasi dan kenyataan, menjadikan hal yang seharusnya tidak ada menjadi ada, bisa di bilang kamu punya teman khayalan"
Kedua orang tuaku mengucap syukur dan intan memelukku dengan erat 'selamat' ucapnya bahagia. 'Sembuh ya' ingatan mulai berjalan seperti roll film, kenanganku bersamanya mulai kabur, hilang dan perasaan aneh muncul di lubuk hatiku. Air mataku bercucuran deras keluar, ku tahan dengan lengan kanan agar bisa tertahan dan sepertinya percuma, aku menangis--- menangis sejadi-jadinya.
"SELAMAT TINGGAL, TEMAN".
comment author : "ini cerita yang ku buat saat masih duduk di kelas 3 smp."

Komentar
Posting Komentar